Fenomena Pendidikan di Indonesia
Pendidikan merupakan salah satu
faktor penentu kemajuan suatu negara. Pendidikan mengantarkan seseorang menjadi
seorang cendekiawan, yang diharapkan dapat membawa kemajuan bagi negerinya.
Namun, bagaimana jika pendidikan di suatu negara belum sebagaimana mestinya
alias mutunya belum terjamin secara maksimal? Mungkinkah kemajuan negara bisa
terwujud?
Hal inilah yang terjadi di
Indonesia saat ini. Kualitas pendidikan masih jauh dari harapan, bahkan seakan
sulit diwujudkan. Penyelenggaraan pendidikan yang diharapkan mencetak generasi
penerus bangsa yang dapat membangun negeri justru melahirkan para generasi
perusak negeri. Contoh yang paling umum saat ini adalah kasus korupsi. Hampir
semua koruptor berasal dari kaum cendekiawan. Hal ini membuktikan, pendidikan
di Indonesia belum bisa mencetak individu yang berintegritas.
Selain kasus di atas, masih banyak
fenomena pendidikan di Indonesia yang seharusnya tidak terjadi di negara ini
demi mencapai kejayaan bangsa, antara lain :
1.
Rendahnya kualitas guru.
Guru di Indonesia memang banyak, tetapi guru yang berkompeten
masih cukup langka. Tipe guru ideal sulit untuk ditemui di masa kini.
Kebanyakan guru menjadikan “guru” sebagai profesi, bukan panggilan hati. Hal
tersebut juga tidak sepenuhnya salah. Namun, dari niat tersebut membuat guru
menjadi seenaknya dalam mengajar. Tidak peduli siswanya paham atau tidak, yang
penting baginya adalah menunaikan kewajibannya mengajar, dan kemudian mendapat
gaji.
2.
Minimnya sarana dan prasarana
sekolah.
Mungkin sebagian besar sekolah di daerah pulau Jawa tidak
mengalami hal ini. Namun lain halnya dengan sekolah di Indonesia bagian timur.
Untuk ruang kelas saja terkadang kurang memadai, apalagi sarana seperti
laboratorium dan perpustakaan. Hal ini tentu dapat menghambat proses
belajar-mengajar di sekolah.
3.
Rendahnya minat masyarakat pada
pendidikan.
Fenomena ini banyak terjadi di Papua, Nusa Tenggara Barat (NTB),
Bengkulu, Maluku, dan Banten. Di Papua misalnya, anak-anak di Papua lebih
banyak berkembang alami tanpa diperkenalkan dengan wahana edukasi, misalnya
seperti bersekolah. Anak-anak di Papua, terutama masa-masa usia emas (3-5
tahun) dibiarkan tumbuh tanpa diajarkan tentang pendidikan. Berbeda dengan provinsi
lainnya di Indonesia yang sudah mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
guna menstimulasi otak anak. Jangankan PAUD, usia normal untuk sekolah yakni
6-7 tahun saja mereka tidak mau untuk memasuki bangku SD. Hal ini bisa terjadi
karena kesadaran dari orang tua dan dari segi fasilitas pendidikan di Papua itu
sendiri. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), minat masyarakat melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi relatif masih rendah serta masih tingginya angka buta
huruf. Berdasarkan hasil survei, di NTB hingga kini terdapat sekitar 417.991
warga yang masih menyandang buta aksara.[1]
4.
Ketersediaan infrastruktur
pendidikan di Indonesia belum merata.
Di televisi sering ditayangkan bagaimana perjuangan siswa untuk
sampai ke sekolah. Ada yang harus menyeberangi sungai dengan jembatan yang tak
layak pakai dan ada yang harus menempuh perjalanan sampai berpuluh-puluh
kilometer untuk dapat sampai ke sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan
infrastruktur untuk memperoleh pendidikan belum merata di Indonesia. Kendala
ini juga yang menyebabkan kemauan untuk sekolah menjadi rendah, sehingga angka
putus sekolah semakin tinggi di beberapa wilayah di Indonesia.
5.
Penyerapan tenaga guru yang tidak
berimbang.
Di daerah pedesaan, satu guru bisa mengajar lima kelas untuk
tingkat Sekolah Dasar (SD) karena kekurangan guru. Sementara, di daerah
perkotaan, jumlah guru malah lebih banyak.[2]
6.
Rendahnya kesejahteraan guru.
Meski gaji guru
telah mengalami kenaikan, hal ini belum menjamin kesejahteraan guru, terutama
guru di daerah pelosok. Misalnya di Raja Ampat, karena minimnya fasilitas, para
guru harus menginap di rumah warga. Dengan numpang di rumah warga,
banyak tenaga pendidik kembali ke kota. Mereka enggan kembali ke sekolah lagi.[3]
7.
Mahalnya biaya pendidikan.
Mungkin
sudah banyak yang familiar dengan ungkapan ini : “Orang miskin dilarang
sekolah”. Ungkapan ini muncul seiring dengan fenomena yang terjadi di lapangan.
Sebagian
besar penduduk Indonesia dikategorikan sebagai kalangan menengah ke bawah dalam
aspek ekonomi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak anak yang harus
putus sekolah karena kekurangan biaya. Mereka lebih memilih bekerja membantu
orangtuanya daripada sekolah yang nantinya belum jelas kelanjutannya.
8.
Ijazah palsu
Kasus
ijazah palsu sedang marak di Indonesia. Fenomena ini menjadi indikator
ketidakjujuran dalam pendidikan. Pada hakekatnya, pendidikan bukan semata-mata
untuk mendapat pengakuan, melainkan untuk menambah wawasan yang diharapkan
mampu menjadi bekal dalam menjalani hidup. Namun, pada kenyataannya tidak
demikian. Siswa bertahun-tahun bersekolah hanya dengan tujuan mendapatkan
ijazah. Menurutnya, dengan ijazah, ia bisa mendapat pengakuan yang tinggi di
masyarakat dalam hal pendidikan, tentunya dengan jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.
9.
Kecurangan
saat UN.
Ini bukan suatu rahasia lagi, malah telah menjadi sesuatu yang
biasa dan membudaya. Akhirnya, tujuan dari penyelenggaraan UN itu sendiri sulit
untuk dicapai. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini, karena semua pasti
terjebak dalam suatu kondisi yang menyulitkan bagi siapa saja yang terlibat di
dalamnya. Pemerintah, menyelenggarakan UN sebagai tolak ukur kualitas
pendidikan di negaranya, dan menjadi pembanding dengan negara-negara lain.
Guru, menginginkan gengsi sekolahnya menjadi baik dengan perolehan nilai yang
tinggi dalam UN. Siswa, menginginkan proses belajarnya tidak sia-sia dalam 3
atau 6 tahunnya. Sehingga akan muncul istilah “saling mencurangi”. Ini pastinya
menodai citra pendidikan, yang diharapkan memunculkan dampak yang baik, tetapi malah
sebaliknya.
Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk
mewujudkan sistem pendidikan yang ideal, setidaknya dibutuhkan kontribusi dari
3 pihak, yaitu pemerintah, guru, dan masyarakat/siswanya sendiri.
[2]
Ibid
*Artikel ini dibuat pada 7 Oktober 2015, sehingga jika ada ketidakrelevanan dengan fenomena saat ini mohon dimaklumi.
Komentar
Posting Komentar